Developmentally
Appropriate Practice (DAP) adalah aktivitas yang didasarkan pada
kebutuhan anak. Aktivitas yang dibutuhkan oleh setiap anak bisa
berbeda-beda, tergantung pada umur, status perkembangan dan juga
minat mereka. Aktivitas yang dilakukan sebaiknya sesuatu yang
“menantang”, namun masih bisa dicapai oleh mereka. DAP membantu
anak-anak memaksimalkan potensi mereka dan kemajuan belajar mereka
menjadi prioritas utamanya.
Play atau bermain merupakan dunia anak-anak, karena dunia mereka adalah
dunia bermain. Bermain bagi anak-anak merupakan sarana untuk belajar.
Bahkan menurut Moore dan Hall dalam artikel Learning to Play (2004),
Play diartikan sebagai “Playful Learning All Year”. Dalam
konteks ini, kita perlu memperhatikan beberapa aspek bermain, yakni:
spontanitas, jadwal bermain setiap harinya, dan keamanan saat
bermain.
Sebenarnya wajar bila
anak-anak belajar sesuatu dengan bermain. Orang dewasa pun terkadang
belajar sambil bermain. Kita bisa melihat contoh bagaimana seorang
programmer bekerja. Terkadang programmer tidak merasa dirinya sedang
bekerja. Ia merasa sedang bermain games dengan angka dan rumus yang
sedang diotak-atiknya, hingga akhirnya tercipta sebuah program
komputer. Programmer tersebut tidak merasa terbebani dengan tugasnya, karena ia menikmati dan menyukai apa yang dikerjakannya. Begitu pun dengan
anak-anak. Bila ia mengerjakan sesuatu yang disukainya, ia tidak akan
merasa terbebani dan bisa mempelajari sesuatu tanpa disadarinya.
Jean Piaget membagi
permainan menjadi beberapa jenis, yakni:
-
Yaitu jenis permainan dimana anak-anak mempelajari benda-benda di sekitarnya dengan berinteraksi fisik secara langsung. Permainan fungsional juga membantu perkembangan fisik anak. Permainan tersebut dimulai pada tahap perkembangan sensorimotor dan terus berlangsung selama masa perkembangan anak. Hal itu juga mencakup lari, lompat, berayun dan meluncur. Misalnya: bayi menggerak-gerakkan tubuhnya serta mengulum benda-benda yang berhasil ia gapai dengan tangannya, atau berkali-kali menjatuhkan mainannya untuk mengetahui respon orang tua maupun pengasuhnya.
-
Yakni permainan dimana anak-anak mulai membentuk atau “memproduksi” sesuatu. Misalnya: permainan dengan balok-balok, menggambar, membentuk bubbles dengan campuran air dan sabun, serta mengisi kotak ataupun cetakan dengan pasir dan air.Permainan konstruktif mendasari perkembangan pemikiran logis, matematis dan ilmiah. Melalui permainan jenis tersebut, anak-anak juga belajar mengenai sebab-akibat yang merupakan aspek penting dalam pemikiran ilmiah.
- Permainan Peran (Dramatic Play)source: getty imagesDengan bermain peran, anak-anak mempelajari peran sosialnya dan bagaimana ia berinteraksi dengan orang lain. Selain itu, jenis permainan ini juga meningkatkan kemampuan berbahasa, karena terjadi interaksi antara satu anak dengan yang lain. Kemampuan kognitifnya juga berkembang, karena ia berfantasi saat memerankan sesuatu dalam permainan tersebut.
-
Tipe permainan ini biasanya berkembang selama masa sekolah dasar. Anak-anak dibawah usia tujuh tahun dinilai belum mendapat manfaat maksimal dari permainan dengan “aturan” tersebut. Aturan yang dimaksud sebetulnya bukan sesuatu yang mutlak, karena aturan yang ada bisa saja muncul ketika terjadi interaksi dari beberapa anak yang memiliki minat sama dalam permainan tertentu. Dalam permainan tersebut, kadangkala terjadi konflik yang akhirnya selesai dengan adanya proses negosiasi dan kompromi dari mereka yang saling bertikai. Dalam permainan jenis ini, guru bisa sekaligus mendorong anak-anak untuk lebih menggunakan kata-kata daripada tindakan fisik yang merugikan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Melalui permainan jenis ini, anak-anak pun perlahan menyadari pentingnya aturan dalam kehidupan.
Bermain benar-benar
memiliki peran penting bagi anak-anak sebagai proses belajar dan
memahami sesuatu. Bagi anak-anak, bermain dianggap sebagai kerja atau
aktivitas. Dengan bermain anak-anak bisa mendapatkan pengetahuan dan
kemampuan baru, serta membantu mereka berperan dalam kehidupan mereka
masing-masing di masa mendatang.
Pada minggu tersebut,
saya juga diwajibkan menulis biografi pendek sepanjang ±250 kata mengenai diri saya. Intinya menuliskan siapa saya dan
mengapa saat ini saya memilih mengajar anak-anak usia dini.



