Enggak kerasa, sudah 6 bulan tinggal di Dresden. Waktu baru datang di bulan pertengahan September 2005 itu, aku sering menggigil kedinginan. Mungkin karena sebelumnya biasa tinggal di Jakarta yang panas. Saat itu, angin kadang-kadang bertiup kencang, karenanya aku harus mulai membiasakan diri memakai mantel tebal dan pelembab muka serta bibir. Daun-daun yang sudah menguning pun, berguguran satu persatu. Hingga pohon-pohon pun hanya menyisakan ranting keringnya. Ya, hampir semua tumbuhan meranggas seperti mati, menyiapkan diri menyambut datangnya musim dingin.
Alhamdulillah, bulan ramadhan bisa terlalui dengan baik, tanpa ada keluhan sakit apapun. Malah lebih enak, karena waktu puasanya lebih pendek. Bisa sahur jam 6-an pagi dan buka puasa jam 4 sore. Sesudah bulan ramadhan, aku menyegerakan diri melunasi hutang-hutang puasa. Takut saat musim panas tiba, sementara hutang puasa belum sempat dilunasi. Alhamdulillah, sekarang sudah terlunasi semua.
Kursus A1 di VHS Gorbitz, alhamdulillah terlalui dengan baik. Memiliki guru yang cantik dan baik, serta teman-teman dari berbagai negara yang memiliki bermacam karakter dan keahlian. Benar-benar menyenangkan. Sayang, akhirnya di akhir kursus, kami harus berpisah satu sama lain.
Kursus A2 di VHS Schilfweg akan berakhir hari Jum’at minggu ini. Natalie dan Natasha, dua orang teman dari kelas sebelumnya, bersamaku belajar di kelas tersebut. Awalnya, aku tidak terlalu suka dengan guruku di A2 ini. Aku sering merasa, komentar-komentarnya seperti menghina dan merendahkan. Mungkin karena kemampuan bahasa Jermanku yang kurang memuaskannya. Gayanya pun sangat formal. Maklum, model ibu-ibu Jerman yang sudah tua. Tapi aku tidak mau menyerah dan terus bertahan di kelas itu. Sampai akhirnya aku menjadi terbiasa dengan kritik-kritiknya dan (insya Allah) bertahan hingga akhir kursus nanti.
Untuk level selanjutnya, aku berencana belajar lagi di VHS Schilfweg. Rencananya, kursus akan dimulai pada hari Senin, 10 April 2006. Semoga dengan belajar di level selanjutnya, kemampuan bahasa Jermanku akan menjadi lebih baik nantinya. Amiin.
Saat winter, di malam hari aku dan suami sering kedinginan. Pasalnya, Heizung sengaja dimatikan oleh Vermieterin pada pukul 00.00 – 06.00 cet. Padahal kadang pengen juga malam-malam bangun. Maksudnya ingin menyempatkan diri untuk menulis sesuatu. Tapi karena suhu udara di ruangan bisa sampe 14ºC, aku biasanya menyerah dan memilih untuk tidur kembali di balik selimut tebalku.
Hmmm..., sudah seminggu lebih, salju tidak lagi turun. Matahari juga lebih sering bersinar terang. Kadang-kadang ada hujan, tapi tidak sering. Udara pun sudah lebih hangat.
Di sekitar rumah, ada banyak bunga-bunga rumput berwarna putih yang mulai tumbuh. Mungil dan jumlahnya sangat banyak. Mereka seperti kuntum-kuntum melati yang belum mekar. Pohon-pohon yang tadinya seperti mati, sekarang seperti menggeliat bangun dan memancarkan kegembiraannya, dengan tumbuhnya daun-daun hijau di ranting-rantingnya.
Vermieterin juga sudah mengeluarkan pot-pot bunga yang di saat winter ia simpan di dekat kotak surat. Pot-pot bunga itu ia isi dengan bunga kecil warna-warni.
Wah...tak terasa. Sekarang sudah berada di musim semi itu. Sebentar lagi, akan tiba di musim panas. Kemungkinan, akhir tahun nanti sudah akan kembali ke Indonesia. Harus kembali lagi ke suasana hidup yang mungkin tidak tertebak, harga-harga yang sudah melambung tinggi, transportasi yang mahal dan tidak nyaman, mal dan pertokoan yang mendesak lingkungan pendidikan, atau malah uang rokok yang harus disediakan untuk membereskan berbagai macam urusan keseharian.
Hmm..., semoga diberi kekuatan untuk tetap optimis menghadapi masa depan. Amiin.
Selamat Datang Musim Semi...