Saat menjemput di apartemen saya, tidak ada masalah dengan bus. Termasuk saat ada seorang disable yang naik ke bus dengan pengungkit khusus. Tetapi sampai di Woods Appartment, bus berhenti sekitar cukup lama, sebab pengungkit yang seharusnya dibutuhkan untuk menaikkan seorang disable yang lain ternyata macet. Setelah menunggu lama tanpa hasil, akhirnya pemuda berkursi roda itu pun gagal naik. Sopir pun meminta maaf dan menyarankan pemuda tersebut untuk ikut Shopping Shuttle berikutnya yang akan datang sejam kemudian. Sepertinya ia tak menuruti saran sang sopir, karena kemudian saya melihatnya menjalankan kursi rodanya menuju kampus di tengah cuaca yang kurang bersahabat saat itu.
Setelah sempat mampir selama kurang lebih lima belas menit di pool, pengungkit pun berhasil diperbaiki. Sang sopir yang sepertinya belum lama mengoperasikan Shuttle Bus itu lalu membawa kami ke Student Union. Dari situ bus pun mengarah ke Meijer sebagai tempat shopping. pertama. Setelah itu bus menuju ke Best Buy dan The Mall at Fairfield Commons yang jika tidak macet bisa ditempuh dalam waktu 15 menit.
Sampai di Meijer saya sempat memotret area parkir dan tampak depan gedung. Hasilnya tak terlalu bagus sebab memang saat itu sedang turun salju dan berkabut. Satu hal yang menyenangkan ketika berada di komplek perbelanjaan disini adalah tempat parkirnya yang luas dan semuanya berada di luar gedung. Ini tentu beralasan, sebab tanah kosong yang luas masih mudah didapatkan. Berbeda dengan Jakarta dan sekitarnya, yang karena keterbatasan lahan menyebabkan hampir semua area parkirnya berada di dalam gedung.
Meijer adalah bigstore yang lengkap dan buka 24 jam. Hampir semua keperluan sehari-hari ada disitu. Kalau ingin berhemat, tempat inilah yang menjadi tujuan mahasiswa Wright State University (WSU). Dari kampus WSU tempat tersebut bisa dijangkau dengan jalan kaki. Dari tempat saya dan suami tinggal, jaraknya mencapai 1,5 mil (sekitar 2,4 km). Jika masa perkuliahan sedang aktif berjalan, tidak perlu susah payah karena ada Shopping Shuttle. Namun bila masuk masa liburan, siap-siap saja jalan kaki sambil menenteng beban berat saat harus belanja mingguan. Hal itu kami alami saat winter break yang lalu, dimana kampus libur selama satu bulan. Yah, beginilah nasib belum punya mobil:)
Masuk ke Meijer, saya lalu mengambil trolley dan mendorongnya menuju ke area Hobi. Disitu saya mencari sekoci dan benang untuk mesin jahit bekas yang saya beli beberapa hari sebelumnya. Selain mesin jahit dan peralatan penduk
ungnya, ada pula benang sulam, alat-alat rajut, bahan-bahan scrapbook, dan berbagai bahan handycraft lainnya. Bagi yang memiliki binatang peliharaan, Meijer pun bisa menjadi salah satu tujuan belanja karena harganya yang cukup terjangkau. Lihat saja slogannya: Happy Pets, Healthy Prices.
Dari area hobi, saya pun melewati apotik. Selain menyediakan obat paten dan alat-alat kesehatan, di apotik ini pun tersedia beragam jenis obat generik yang bisa didapatkan dengan gratis asalkan disertai resep dokter. Sebuah penawaran yang sedikit melegakan di tengah mahalnya biaya fasilitas kesehatan di Amerika Serikat ini.
Tak jauh dari apotik, ada lemari pendingin yang menyimpan berbagai macam margarin, mentega, dan juga yoghurt. Saya pun mengambil sekotak margarin yang hari itu sedang sale dan berpindah menuju ke lemari pendingin berikutnya yang berisi aneka susu dan juga telur. Jika di Indonesia susu cair
ukuran rumah tangga dijual perliter, disini susu cair dijual pergalon. Satu galon sama dengan 3,78 liter. Untuk satu galon susu sapi, harganya sekitar $2,5. Susunya pun beraneka macam, dari yang masih berlemak tinggi sampai susu yang fat free pun ada.
Beralih kemudian ke area keju. Disitu bisa didapatkan aneka keju dari yang teksturnya lembek -seperti misalnya: cream cheese atau neufchattel cheese- sampai yang berbentuk batangan ataupun serut. Bagi yang muslim harus lebih berhati-hati memilih produk olahan keju karena ada yang menggunakan enzim pengolah dari binatang (animal enzyme). Yang aman adalah yang enzim pengolahnya mikroba (microbial enzyme). Bagi yang vegetarian bisa juga menggunakan keju khusus berbahan kedelai. Untuk keju vegetarian tersebut, saya sendiri belum pernah mengonsumsinya.
Dari area keju, saya menuju ke rak berisi aneka jenis pasta. Rak ini letaknya satu area dengan beras. Ternyata hari itu harga pasta sedang mahal, jadi saya putuskan hanya membeli sekotak spaghetti ukuran 1 pound (454 gram). Intinya pilih yang harganya termurah, supaya pengeluaran mingguan bisa dihemat. Untungnya Meijer menyediakan website, dimana produk-produk yang sedang promosi ditampilkan. Jadi jika tak memiliki brosur promosinya, saya sempatkan mengunjungi website-nya sebelum belanja mingguan. Manfaatnya saya bisa tahu produk mana saja yang harganya sedang murah. Sedikit merepotkan, tapi itulah seninya berhemat:)
Yang paling menyenangkan, saat itu Meijer sedang promosi salah satu merk es krim yang kebetulan biasa kami konsumsi. Jadilah hari itu kami belanja empat kotak es krim berukuran 1,4 liter/kotak. Mumpung murah:) Yang lucu ada es krim warna biru yang dinamakan Blue Moon. Anda tentu tahu Blue Moon itu merek dagang apa jika di Indonesia. Adapula es krim berukuran jumbo sekitar lima liter dengan harga yang relatif terjangkau. Yang mau hajatan tinggal beli saja, tak perlu repot-repot pesan atau membuatnya secara khusus.
Untuk es krim, sempat kami “puasa” mengkonsumsinya, karena saat itu belum menemukan produk yang bahannya diperbolehkan. Setelah menjelajah ke berbagai website dan blog kaum muslimin yang bermukim di Amerika Serikat dan Kanada, akhirnya kami temukan dua merk yang bahannya bisa kami konsumsi, yakni Breyers dan Haegen Daaz. Itu pun kami masih harus tetap berhati-hati memilih rasa apa saja yang diperbolehkan berdasarkan ingredients-nya. Maklum untuk satu merk es krim saja bisa mencapai sepuluh atau bahkan 20 rasa.
Kemudian saya pun beralih ke area bakery. Disana saya mengambil roti prancis (baguette) yang hari itu juga sedang sale. Area ini bersebelahan dengan area kacang-kacangan, buah dan sayuran segar. Disitu saya baru mengetahui ada kacang tanah goreng yang nantinya bisa saya gunakan untuk membuat sambal pecel. Tempe, tahu, keju dan sosis vegetarian juga bisa didapatkan disini. Rasa tempe-nya beda jauh dengan yang ada di Indonesia, tapi cukup membantu jika rasa kangen akan makanan itu sudah tak terbendung lagi.
Di area ini saya juga
mendapati seorang nenek tua yang dipekerjakan disalah satu booth makanan. Tentu pekerjaannya tidak seberat yang muda dan sifatnya pun part time. Memang di Amerika Serikat berlaku kesetaraan hak bekerja. Orang sudah tua seperti apapun, jika fisik masih memungkinkan, maka ia masih diperbolehkan bekerja. Maka jika anda naik maskapai Amerika Serikat dan mendapati pramugara ataupun pramugari-nya tak lagi muda, tak perlu heran. Itulah gambaran kesetaraan hak yang berlaku disini.
Kira-kira pukul 15.30 EST, suami saya pun datang. Alhamdulillah bala bantuan datang. Kami pun menuju ke area kasir yang jumlahnya mejanya mencapai 25 buah. Di Self Checkout Lane, kami men-scan s
emua belanjaan dan membayarnya tanpa bantuan seorang kasir pun. Bagian ini memudahkan orang yang tidak ingin terlalu lama mengantri, karena dengan melakukan semuanya sendiri, proses membayar menjadi lebih cepat. Kalau kemudahan ini diberlakukan juga di supermarket yang ada di Indonesia, mungkin jupermarket-nya lama-lama bangkrut karena barang belanjaan banyak yang tidak dibayar:)
Kira-kira pukul 16.00 EST, Shopping Shuttle pun datang menjemput. Lega sekali rasanya saat agenda belanja mingguan telah terlewati. Setelah itu tinggal menyusun menu apa saja yang akan dibuat selama seminggu ke depan. Maklum tidak ada warteg disini:)
